Sejak 07.02.2003

Bidang komunikasi dan informasi
Yvonne Rieger-R
Düren
Germany

Dari Temu Raya PERKI se-Eropa 2004

Untuk meningkatkan peran anggotanya di dalam memahami situasi dunia sekarang ini dan membesarkan serta memuliakan Tuhan, BP PERKI se-Eropa menyelenggarakan: Konsultasi Teologi, Kebaktian Agung Pentakosta secara ekumenis dan pujian untuk mengagungkan dan memuliakan Tuhan berupa Pesta Paduan Suara Gerejawi. Di dalamnya terkandung pula kegiatan untuk meningkatkan hubungan satu dengan lainnya agar lebih baik, sebagai masyarakat Indonesia, terpadu dan terselenggara akhirnya pada Malam Indonesia (Malam Gembira) dan Hari Keluarga. Seluruhnya diselenggarakan dalam satu program Temu Raya PERKI se-Eropa 2004 pada tanggal 28 s/d 31 Mei 2004, di pusat konferensi de bron, Dalfsen, Negeri Belanda, dengan mengambil tema Kasih Mengubah Dunia dan subtema Tumbuh Bersama Dalam Kasih.

Acara Temu Raya dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI untuk Negeri Belanda, Bapak M. Jusuf, yang dimulai dengan Konsultasi Teologi PERKI se-Eropa dan berlangsung dari tanggal 28 sampai dengan 29 Mei 2004 malam.
Melalui Konsultasi Teologie, warga PERKI dan masyarakat Indonesia di Eropa diajak untuk menggumuli kembali arti panggilan orang beriman ditengah-tengah kehidupan nyata dimana akhir-akhir ini kekerasan yang mengancam baik integritas bangsa maupun martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan terjadi.
Materi-materi yang dibahas dalam konsultasi adalah “Realitas Kekerasan di Dalam Masyarakat”, disampaikan oleh Bp. Dr. Nico Schulte Nordholt dari Universitas Twente di Belanda menggantikan Letjen Agus Widjojo, senior fellow pada Centre for Strategic and  International Studies, Jakarta, yang berhalangan hadir.  „Kasih dalam perspektif Agama Kristen” (Tinjauan Teologi) disampaikan oleh Ibu Pendeta Yetti Anggraeni, S.Th. yang bertugas di Nordrhein Westfalen, Jerman. „Kasih dalam perspektif Agama Islam“ (Tinjauan Teologi) dibawakan oleh Bapak Kamaruddin Amin, M.A., kandidat PHD Universitas Bonn, Jerman dan terakhir Romo Simon Petrus Lili Tjahjadi, kandidat Ph. D. dalam bidang Filsafat Ketuhanan pada Goethe Universität di Frankfurt, Jerman menyampaikan „Kasih Ajaran yang Universal“: Implementasi dalam kehidupan. (Tinjauan dari Perspektif  Filsafat Moral).

Prof. Dr. Nico Schulte NordholtPeserta diajak oleh Bp. Dr. Nico Schulte Nordholt untuk melihat realitas kekerasan dalam tiga tipe yaitu: kekerasan dalam rumah tangga; kekerasan antar tetangga dan kekerasan struktural.
Kekerasan dalam rumah tangga, yang seringkali mengakibatkan anak-anak dan perempuan menjadi korban, tidak begitu mudah diatasi, karena adanya privacy kehidupan dalam rumah tangga serta adanya budaya malu untuk mengungkapkan kekerasan yang terjadi.
Menanggapi situasi kekerasan diberbagai daerah beberapa tahun terakhir ini, beliau mengatakan  bahwa pada dasarnya kekerasan tersebut pertama-tama berakar pada eksistensi etnis, bukan agama. Kekerasan juga banyak digunakan kaum muda dalam usaha mencari identitas. Hal ini tidak berarti bahwa agama tidak ada sangkut pautnya dengan kekerasan tersebut, melainkan  penginterpretasian yang keliru terhadap ayat-ayat Kitab Suci  mengakibatkan agama menjadi faktor pendukung terjadinya tindak kekerasan tersebut.
Realitas nyata adanya kemiskinan dan penderitaan akibat ketidak-adilan, tidak dapat dipisahkan dengan sejarah, termasuk kebijakan-kebijakan produk masa lalu yang menghasilkan berbagai pranata yang memungkinkan semakin suburnya tindak kekerasan.
Upaya untuk mengatasi kekerasan di Indonesia merupakan upaya yang sangat luas, menyangkut pembenahan berbagai pranata (legislatif, eksekutif dan yudikatif) yang demokratis, refleksi kembali terhadap berbagai penginterpretasian terhadap ayat-ayat Kitab Suci yang sekiranya dapat mendukung tindak kekerasan, serta semua itu perlu dimulai dalam rumah tangga sebagai lingkungan terkecil.
Selain mengatakan: „Orang tidak bisa berbicara tentang kekerasan kalau dalam rumah tangganya sendiri anak-anak dan perempuan masih menjadi korban,“ beliau juga mengingatkan bahwa penyakit HIV yang pelan-pelan melanda beberapa daerah di Indonesia jangan sampai dikesampingkan.

Dari pokok bahasan warga PERKI yang hadir menyusun suatu resolusi dengan judul Resolusi Bersama Peserta Konsultasi PERKI Se- Eropa yang isinya antara lain :
Karena didorong oleh keprihatinan bersama  terhadap kekerasan akibat terjadinya konflik-konflik etnik dan agama yang telah menelan banyak korban jiwa dan material di berbagai tempat di belahan bumi ini, khususnya di Indonesia, dan kenyataan bahwa perbedaan agama dan etnis telah dimanipulasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab menjadi sumber konflik dan perpecahan di antara elemen-elemen bangsa. Juga kenyataan bahwa para pelaku korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) semakin lihai meloloskan diri dari jerat hukum, penegak hukum dan keadilan semakin tidak wibawa dan bahwa Undang-undang Otonomi Daerah (OTDA) telah disalahpahami dan disalahgunakan untuk mempertebal egoisme kesukuan dan keagamaan (primordialisme).

Selain menyadari bahwa PERKI tidak responsif atas kelalaian negara dalam mengimplementasikan amanat Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 secara konsisten dan bertanggungjawab, peserta juga menyadari akan adanya kecenderungan dari gereja-gereja di Indonesia yang telah turut terkooptasi oleh struktur kekuasaan dan pola-pola birokratis yang korup dan Pemimpin agama belum berhasil membina warganya sehingga rentan terhadap manipulasi dan provokasi.
Ke dalam PERKI disadari bahwa Warga Kristen Indonesia di Eropa masih berupaya membangun kebersamaannya sehingga memperlemah solidaritas dan kepedulian antar PERKI.
Oleh karena itu maka peserta bertekad untuk  bersama-sama meningkatkan peran serta warga PERKI di dalam mengupayakan usaha-usaha keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan antar sesama manusia dan bangsa-bangsa dan bersikap terbuka atas pembaharuan akan pemahaman teologi yang sesuai dengan konteks agar memampukan PERKI dan warganya meningkatkan rasa keesaan dalam kebersamaan sebagai suatu masyarakat majemuk serta secara proaktif membangun dialog dengan perwakilan-perwakilan pemerintah Indonesia di Eropa, lembaga-lembaga keagamaan lain, lembaga-lembaga sosial, guna memberikan masukan-masukan demi penegakan hukum dan keadilan serta terwujudnya kesejahteraan rakyat.

Dalam resolusi tersebut Gereja-Gereja di Indonesia didesak untuk bersikap kritis, dinamis dan konstruktif dalam mencermati berbagai permasalahan bangsa. Peserta juga mendesak pemerintah serta lembaga-lembaga terkait menegakkan hukum (law enforcement) di seluruh persada Nusantara, khususnya di wilayah-wilayah konflik, agar tidak terjadi kerancuan nilai moral dan etis dan “kekebalan hukum” bagi pelaku tindak kriminal. Demikian juga dengan dilakukannya pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-undang Otonomi Daerah (OTDA) agar tidak dimanipulasi untuk memperkuat sentimen primordialisme. Sedangkan untuk mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap negara-bangsa Republik Indonesia Pemerintah didesak agar mengusut seluruh kasus-kasus pelanggaran HAM kemudian mengadili pelaku-pelakunya menurut hukum yang berlaku.

Tanggal 30 Mei pagi hari, semakin banyak peserta pertemuan yang datan g untuk mengikuti program selanjutnya yang diawali dengan Kebaktian Pentakosta secara Oikumenis. Khotbah dibawakan oleh Ibu Pdt. Yetti Anggraeni dengan tema “Mengalahkan Kuasa Gelap dengan Kasih”
Pendeta dan Pastor yang dilibatkan dalam kebaktian adalah Pdt. Roy E. Lengkong, Pdt. Binsar Nainggolan, Pdt. Sasabone, Pdt. Yetti Anggraeni, Pdt. Maureen T. Marquard dan Romo David Djerubu SVD. Beberapa lagu pujian dalam kebaktian disumbang oleh paduan suara dari Belgia dan Grace Simon.

Penghargaan yang sangat baik dari Bapak David Tulaar yang mewakili EUKUMINDO dan Bapak Adian Silalahi, Duta Besar RI di Prancis disampaikan kepada BP PERKI se-Eropa melalui kata sambutan pada pembukaan PESPARAWI 2004. Acara Pesparawi bertujuan menggalang rasa persekutuan dan solidaritas umat Kristen Indonesia yang berdomisili di Eropa dan sekaligus mengembangkan talenta pemberian Tuhan, yakni kemampuan untuk menyanyi, sebagai alat untuk menyatakan ungkapan syukur, pujian atas kebaikan dan kasih Allah bagi Manusia. Grace Simon, penyanyi Indonesia yang sangat dikenal dan telah dua kali menyelenggarakan PESPARAWI di Bali, selain menyampaikan bahwa untuk memuji-Nya PERKI perlu mengembangkan talenta kaum muda, juga  menyumbangkan sebuah lagu.
Sebelas peserta Vokal Grup tampil dengan menyanyikan lagu-lagu wajib Syukur PadaMu Tuhan (Pujian Bagi Sang Raja No.688-Give Thanks-Henry Smith) dan dua Paduan Suara dengan KuasaMu dan NamaMulah (Kidung Jemaat 341. Syair oleh Samuel Preiswerk diterjemahkan oleh E.L. Pohan Shn. Lagu oleh Johann M. Haydn) disertai lagu bebas pilihan masing-masing. Tim Juri
Pesparawi 2004 PERKi se-Eropa


Karena semua peserta tampil dengan sangat baik, Tim Juri yang terdiri dari Bapak Pendeta Binsar Nainggolan, Ibu Nina Dries dan Bapak R. Simorangkir menjadi kewalahan  menentukan siapa pemenang diantara seluruh peserta.
Namun setelah hampir sejam menyusun angka-angka yang terkumpul berdasarkan pelbagai kriteria, tim juri berhasil menetapkan bah Juara I Pesparawi 2004
Vokal Grup Eben Ezer
GPMT Zwolle, Belandawa Vocal Group Eben Ezer dengan lagu pilihan Sebab Tuhan Baik dibawah pimpinan M. Woearbanaran dari Zwolle, Belanda, adalah sebagai pemenang pertama, PERKI Belgia pimpinan Stanley Pesik sebagai pemenang kedua dan Vokal Grup PERKI NRW dipimpin oleh Lea Manurung sebagai pemenang ke tiga. Piala Bergilir untuk Vokal Grup yang sebelumnya dipegang oleh PERKI London-UK kini be Juara I Pesparawi 2004
Paduan Suara Deo Gloria
GKIN Rijswijk, Belandaralih ke Grup Eben Ezer. Sedangkan GKIN Rijswijk/Den Haag dengan Paduan Suara Deo Gloria pimpinan Mathilda E. Kountul bersama Pianis Marina Pogalin kali ini dengan lagu pilihan "Hai Puji NamaNya" karya Arnoldus I. Apituley 1998 dan G. Sumokil 1998 kembali menjadi Juara Pertama PESPARAWI dan mempertahankan piala bergilir yang diperoleh sebelumnya di PESPARAWI 2002 di Brussel, Belgia. Juara kedua Paduan Suara diraih oleh PERKI NRW yang dipimpin oleh Fransiska Wara Antini.

Sangat banyak peserta yang ingin turut memeriahkan Malam Indonesia dan Malam Gembira, hal ini nampak ketika Grup Band memulai memainkan musiknya dengan bebera pa lagu setelah pemberian piala kepada para pemenang pesparawi. Banyak yang lupa bahwa bus yang akan membawa mereka kembali ke kota masing-masing telah menunggu. Sangat disayangkan bahwa kesempatan untuk mempererat persaudaraan melalui kegiatan kesenian tidak dimanfaatkan.  Acara malam Indonesia yang dimaksudkan juga sebagai ajang manifestasi bakat siapa pun yang mencintai kesenian berjalan hingga pukul dua malam dimeriahkan dengan beberapa tarian dari Sulawesi Utara, duet Rita Pakasih dan Arnold Tobing dari London dan juga berbagai ragam tarian poco-poco.

Salah satu kendala Temu Raya 2004 PERKI se-Eropa adalah udara yang tidak memungkinkan penyelenggaraan beberapa perlombaan di hari terakhir, hari keluarga yang bermaksud memberikan kesempatan lebih banyak kepada tiap keluarga untuk berdialog dengan keluarga lain. Namun dengan semangat persaudaraan, peserta PERKI UK membuat acara tersendiri, mereka menggunakan waktu dengan mengunjungi tempat-tempat wisata di Belanda. Diantara peserta lainnya ada yang membaca dan mendiskusikan kembali makalah-makalah yang disampaikan di acara Konsultasi Teologie, ada yang bernyanyi bersama, bergurau atau saling bertukar pengalaman.

Ketua Umum PERKI se-Eropa, Ibu Yuyu Mandagie dan Bapak Pdt. Lengkong sebagai ketua pelaksana serta seluruh panitia, yaitu BP PERKI se-Eropa dibantu oleh beberapa masyarakat Indonesia di Belanda, sangat bersyukur kepada Tuhan dengan suksesnya program yang sangat padat ini dan sangat berterimakasih kepada semua pihak yang mendukung terlaksananya program. (yrr)
 

index Koinonia PERKI setempat Arsip Impressum

Situs PERKI di Eropa

Perki Belgia
Perki Inggris
Keluarga Kristen Net
Perki Aachen
Perki Darmstadt
Perki NRW
Perki Oikumene Frankfurt
Perki Matheus
Perki Almere
Perki Amsterdam B

Perki Eropa di Indonesia

Perki Eropa Jakarta

Materi-materi dari Konsultasi Teologie PERKI se-Eropa 2004

REALITAS KEKERASAN DI DALAM MASYARAKAT
Prof. Dr. N. Schulte Nordholt

KASIH DALAM PERSPEKTIF AGAMA KRISTEN
(TINJAUAN TEOLOGIS)
Pdt. Yetti Anggraeni
 

KONSEP ISLAM TENTANG KASIH dan DAMAI
Kamaruddin Amin  MA
 

KASIH SEBAGAI AJARAN UNIVERSAL DAN IMPLEMENTASINYA DALAM KEHIDUPAN 
Sebuah Pendekatan Filosofis
Romo Simon Petrus L. Tjahjadi