 |
|
|
|
Sejak 07.02.2003
|
Bidang komunikasi dan informasi
Yvonne Rieger-R
Düren
Germany
|
|
|
 |
|
|
|
 |
|
|
 |
 |
|
|
|
Sobron Aidit
:
INDONESIA-RAYA
( Dalam Rangka
Menyambut
17 Agustus 2003 )
Kalau saya ingat-ingat, kapan dan apakah pernah
saya dan kami menya- nyikan lagu Indonesia-Raya dalam rentang puluhan tahun
ini? Dengan senyum senang dan bahagia saya ingat dan bisa saya jawab. Ya,
dalam tahun ini juga, ketika kami mengadakan pertemuan Perki se-Eropa
di Aachen - Jerman. Sangat terkejut saya, panitya pertemuan ketika
akan membuka acara buat memulai pertemuan...."sebagai acara pertama,
mari- lah kita berdiri buat sama-sama menyanyikan lagu
Indonesia-Raya"..... demikian kata ketua panitya. Tersentak saya - agak
terkejut saya....Puji Tuhan, begitu banyak pertemuan yang saya hadiri
selama di Eropa ini, yang sudah 22 tahun saya tinggal di jantungnya,- baru
kali inilah yang pembukaan acaranya menyanyikan Indonesia-Raya. Sudah
terlalu lama saya dan kami, tidak pernah berdiri bersama-sama buat
menyanyi- kan lagu Indonesia-Raya. Tapi bulan itu, di Aachen - Jerman,
kami berdiri bersama-sama buat menyanyikan lagu Indonesia-Raya.
Sangat
sulit saya buat menahan air-mata saya buat bebas keluar beperci- kan mengalir
melalui kedua-belah pipi saya. Sangat terharu - sangat sakral. Mengapakah
sampai kami tiga turunan - tiga generasi yang sampai kini tidak diizinkan
pulang buat hidup di kampunghalaman kami sendiri? Semua itu saya anggap, demi
Indonesia-Raya, demi bertahan dan mempertahankan Indonesia-Raya! Rasanya
bahkan mungkin pastinya, saya dan kami, paling tidak sekeluarga kami, tidak
pernah menodai kesucian Indonesia-Raya. Saya masih ingat ayah saya, saya
masih ingat abang saya.......semua mereka berju- ang buat keagungan
Indonesia-Raya. Mereka dicari-cari di uber-uber kolonia- lisme Belanda, mau
ditangkap mau dipenjara bahkan mau dibunuh, semua itu buatmu Indonesia-Raya.
Mereka masuk penjara - disiksa - dihina - dige- buki demi Indonesia-Raya.
Seperti abang saya, tidak tahu di mana gugurnya, di mana kuburnya, mengapa
terjadi semua itu? Demi Indonesia-Raya! Barangkali tidak begitu bersalahan
kalau saya katakan, hidup kami demi Indonesia-Raya yang kita nyanyikan
bersama itu. Lalu apakah orang lain itu tidak? Tidak begitu juga? Sudah tentu
orang-orang lain itupun juga banyak yang seperti kami.
Tetapi
maafkanlah saya, apakah semua begitu? Cukup banyak yang samase- kali tak ada
hubungan dengan yang saya tuliskan ini! Bahkan maafkanlah ka- ta-kata yang
tak sepantasnya ini,- Ada yang mereka sudah lupa samasekali. Ada yang mereka
sudah kentuti dan beraki Indonesia-Raya itu! Ada yang su- dah mereka khianati
- dengan merongrong - membikin terpuruk membikin miskin Indonesia-Raya,-
bahkan kalau bisa mau mereka gadaikan atau jual begitu saja Indonesia-Raya
ini! Dan mereka gerogoti - gigiti - seperti tikus menggerogoti makanan yang
sudah baik-baik disimpan orang. Ada yang na- manya korupsi - manipulasi -
mencoleng - maling. Dan yang dijahati serta dicuri - dirampoki itu, adalah
kekayaan Indonesia-Raya. Dulu - pada ketika baru-baru saja kita mendirikan
Indonesia-Raya, betapa kita saling bersendel- bahunya - betapa tebalnya rasa
solidaritas antara kita. Tetapi kini habis-kikis- lah semua kenangan indah
itu. Mungkin masih ada sisa-sisa dan remah-emah- nya yang
ketinggalan.
Ya, seperti aliran air - dari hulu ke hilir. Sampai ke muara
- ke sumbernya, segala yang tadinya bersama-sama, ada yang nyangkut ada yang
membusuk dan ada yang berhancuran dan jadi ampas kotoran. Sejarah sudah
memilih dan sudah memilah,-
--------------Holland,- 16 agustus
03-----------------------
|
|
|
|