|
OBROLAN MALAM ( Gereja dan Pendeta - bagian dua )
Dalam beberapa tulisan ada saya catatkan, betapa lugu dan naifnya pen- dapat saya. Pendapat ini adalah : saya kira begitu kita ini masuk ke rumah Tuhan, ke gereja, semua beres - semua bersih semua suci dan tanpa dosa apapun! Semua aman-sentosa dan penuh kedamaian seakan sorga di bumi! Tetapi pendapat naif dan lugu ini, membikin saya tersentak - terkejut dan heran seribu kilo! Pada rapat-rapat gereja yang saya hadiri, ada tiga kali yang bikin saya terhenyak dan tersentak. Pertama di Almere dulu. Begitu teman-teman saya mengemukakan pendapat dan pendapat itu berbeda dengan pimpinan, betapa keras dan keterusterangan yang bikin telinga merah buat orang yang terkena. Dengan kata-kata keras - membeling - meruncing dan sakit bukan kepalang. Perdebatan yang keras.
Saya teringat puluhan tahun yang lalu. Saya dan kami sering rapat-rapat begini. Tetapi ketika itu rapat dalam organisasi politik - wajar kalau keras dan bahkan sangat panas. Bahkan bisa ke luar mendadak dari rapat - walk- out. Ternyata setelah saya berada dalam badan gereja - badan agama - yang saya kira tadinya penuh aman-damai - tentram-santai - sama saja dengan yang dulu saya pernah alami. Karena kejadian seperti baru-baru ini sudah puluhan tahun yang lalu, mungkin menjadikan saya lupa yang dulu-dulu itu. Rapat pertama gereja kami di Almere yang bikin saya tersentak, ternyata akan saya alami lagi ketika di Jerman - Aachen. Rapat gereja se-Eropa ini lagi-lagi mengaget-kejutkan saya - lagi-lagi tersentak dan terhenyak bukan kepalang. Kata-kata yang keras - meruncing dan membeling,- tapi satu hal, tidak ada kata-kata makian - tidak ada kata-kata yang saru dan di luar keso- panan! Tetapi perbedaan pendapat dan perselisihan pahamnya, tadinya se- akan-akan tidak mungkin disatukan. Bahkan sudah ada kata-kata yang berupa ancaman, dan mengandung ultimatum. Sangat sulit buat menyelesaikannya.
Tetapi ya Tuhan, nyatanya kalau setiap orang benar-benar meniti di jalan Tu- han, dengan doa dengan harapan sesama bekerja dan mengabdi kerajaan Tu- han, apapun akan dapat diselesaikan dengan baik - cukup mulus. Kalau mende- ngarkan ketika rapat yang sangat keras dan panas meruncing membeling tadi- nya itu, rasanya tidak mungkin kami akan dapat menyatukan pendapat kami Perki se-Eropa. Padahal begitu banyak wakil-wakil Perki se-Eropa, seperti belasan kota di Jerman - 9 kota di Belanda - dan Brussel dan Moskow serta Wina, dan tokh bisa menyatukan pendapat. Saya sepenuhnya percaya, ka- rena kita semua bekerja buat ke-Agungan Tuhan dan sesama manusia, semua persoalan dapat dipecahkan. Pertentangan yang paling keras antara Perki Ne- derland dan ke-Pengurus-an Perki se Eropa, ternyata bisa kita satukan pendapat kita. Semoga pendapat dan pikiran saya yang dulu lugu dan naif itu, semakin mendewasa di bawah kerjasama ke-gereja-an dan kemuliaan Tuhan,- Semoga!
Holland,- 29 juni 03,-
|