Sejak 07.02.2003

Bidang komunikasi dan informasi
Yvonne Rieger-R
Düren
Germany

 
Sobron Aidit :


                                         OBROLAN MALAM
                                        ( Gereja dan Pendeta -
                                          bagian satu )

Rasanya enak sekali punya banyak komunite pergaulan. Dunia ini luas - banyak yang bisa kita ketahui - banyak yang kita bisa belajar dan petik darinya. Pergaulan saya dulunya banyak dari orang yang sejenis - misalnya yang berasal dari satu kandang ketika dulu di Cina. Lalu meluas lagi menjadi satu nasib sama-sama tidak bisa pulang. Nah yang satu nasib ini, dari berbagai pelosok - Eropa dan Eropa Timur. Lalu meluas lagi dengan komunite gereja dan pendeta. Lalu meluas lagi - dengan yang dulunya yang paling anti dan paling kejam terhadap komunis dan orang-orang kiri, dan yang berasal ( mereka itu ) yang sealiran dengan yang banyak membunuh keluarga dan teman-teman serta sahabat saya. Tetapi pada akhirnya bisa saling tegur-sapa dan seperti layaknya manusia antara manusia. Dan pada akhirnya bisa berkenalan - bersahabat. Dan semua ini tanpa ada kata maaf dan memaafkan. Berjalan secara wajar dan normal tanpa syarat dan tanpa menuntut apapun antara satu sama lain. Dalam hati saya, jangan-jangan, inilah yang dinamakan rekonsiliasi yang sebenarnya! Mereka ini dari golongan Islam,-

Kalau saya ketika berada dalam kehidupan komunite gereja dan pendeta,tanpa terasa bahwa lingkungan saya itu adalah lingkungan yang lebih banyak menggauli lingkungan rokhani - amal - soleh dan ke-Tuhanan.
Dulu pernah saya merasa heran, kenapa ketika vokal grup gereja kami latihan menyanyi di rumah, ada 15 orang, semua wanita. Tetapi tak ada seorangpun yang suku Jawanya! Lama saya renungkan. Lalu baru saya ingat. Sebagian besar dari mereka, adalah suku Maluku - Manado - Minahasa - Batak. Lha, ya, dari mereka tokh yang banyak penganut Kristen-nya. Sedangkan suku Jawa bukankah banyak penganut Islamnya? Lalu kenapa saya sampai ada pikiran ke sana dan ke soal itu? Karena selama ini, dan biasanya, saya selalu ada dalam lingkungan suku Jawa. Dan soal kesukuan tak ada apa-apanya bagi saya. Sama saja, dan tak pernah saya merasa anti-Jawa atau anti-Batak atau anti-Cina.

Dan ketika saya berada di lingkungan komunite gereja, terkadang saya lupa bahwa di sekeliling saya duduk baik di meja makan maupun di sekitar ruang-sidang dari suatu pertemuan - seminar, teman-teman saya itu banyak yang pendeta dan akhli agama. Dan kami ramai berdiskusi - saling mengemukakan pendapat yang tidak jarang berbeda banyak, atau sama serupa. Ada beberapa wanita yang baru saya kenal misalnya di Berlin, di Aachen, rupanya mbak-mbak itu adalah pendeta! Dan memang akhlinya dalam soal agama Kristen dan dari sekolah tinggi agama, baik dari Indonesia maupun yang dari tamatan Eropa ini. Di kampung kami di Belanda, saya mengenal gereja dan pendeta kami. Salah seorang pendeta kami adalah ibu Srani kami, yang langsung membaptis kami. Dia sekeluarga dekat dengan kami. Dan mereka suami-istri sangat memperhatikan anak-Sraninya - kami ini. Selalu menilpun - menanyakan dan juga berkunjung kepada kami. Nah, disini, ada kekurangan kami, keluarga pendeta ibu-Srani kami itu jauh lebih sering datang ke kami, daripada kami ke mereka! Ini kekurangan kami!

Dan saya pernah juga merasa dongkol. Perki = Persekutuan Keristen Indonesia di Belanda dan Eropa ini, sudah berumur 73 tahun! Tetapi sampai kini tidak punya gereja! Asal mau kebaktian - missa - selalu menumpang di gereja lain! Sampai datanglah pikiran saya mau beli gereja! Pikiran ini diketahui banyak teman-teman dekat saya. Semua orang juga tahu, manapula saya punya uang! Manapula mampu! Tetapi ingat, dulu juga kami beli sebuah restoran di Paris! Jadi bukan mustahil kalau saya atau kami mau beli gereja! Dan restoran yang kami beli itu sampai kini sudah berusia 20 tahun lebih! Berdirinya sejak 14 Desember 1982. Ketika itupun kami tidak punya uang di kantong dan di bank. Yang kami punya bukannya uang kontan, tetapi kami punya teman-teman - persahabatan dan solidaritas!

Belakangan barulah saya tahu, bahwa Perki itu belum merupakan badan-hukum yang mengelola gereja. Tetapi baru persekutuan dalam ke-Kristen-an. Saya lalu manggut-manggut, mengerti persoalannya - hampir saja saya cari gereja ke-mana-mana karena mau beli gereja! Sebagaimana layaknya orang hidup, selalu ada saja persoalan - kontradiksi - yang harus diselesaikan. Saya pernah menulis - sebenarnya hidup kita ini hanyalah bertugas menyelesaikan satu kontradiksi dan kontradiksi lainnya. Satu sudah selesai - lalu datang lagi yang baru. Dan harus lagi kita selesaikan dengan sebaik-baiknya, dan terus menerus begitu, sampai tak ada lagi kontradiski : karena kita sudah mati!

Apa yang saya maksud? Berat saya mengatakannya. Tetapi kalau mau menye- lesaikan kontradiksi ya harus dikatakan - harus diletakkan di atas meja! Baru lagi saya tahu, bahwa pendeta kami yang bertugas melayani jemaatnya - kami ini - sangat sulit keuangannya. Mereka - ada beberapa pendeta - dibayar selalu ku- rang dari salaire - honor - yang sesungguhnya. Hanya misalnya 70% dari honor yang seharusnya mereka terima! Kehidupan keuangannya sebenarnya cukup berat. Lalu mengapa sebabnya? Karena kami juga tidak punya dana yang cukup buat itu semua! Sedang kehidupan gereja lebih banyak tergantung dari uang iuran - dana sumbangsih - dan samasekali tidak tergantung dari bantuan atau subsidi tetap! Dan semua ini sebenarnya artinya tergantung dari jemaat - ya kami ini! Padahal saya tahu benar, para pendeta kami itu kerjanya sangat berat - pekerjaan pelayanannya sangat berat - rumit - dan banyak makan-waktu. Dua pendeta wanita yang saya tahu, bila pergi dari rumah jam 09.00 atau lebih pagi lagi, maka pulangnya dan sampai di rumahnya jauh larut malam. Mereka bekerja lebih dari 12 jam! Tetapi salaire - honornya - jauh daripada seimbang dengan tenaga-kerjanya dan pikiran serta pengorbanan yang diberikannya. Se- mua ini demi pekerjaan pelayanan kepada majelis - jemaatnya.

Ada pikiran saya yang mengambil jalan-pintas. Dan saya tahu, pikiran ini kurang tepat dan saya menyadari pula, bahwa pikiran saya ini tak mungkin diredoi dan direstui Tuhan. Karena Tuhan tidak suka orang berjudi. Kalau saya beli loto dan kena, akan saya serahkan kepada gereja, saya sangat tidak mau dan tidak ikhlas kalau pendeta kami ini harus hidup terus-menerus dalam kesulitan uang. Benar, mereka tak pernah mengeluh dan menuntut semua apa yang saya ceritakan ini. Mereka bekerja dengan sungguh-sungguh dan melayani kerja-ke-Tuhan-an, buat seluruh jemaat. Sampai kini saya tetap beli loto. Tetapi saya tahu, Tuhan rasanya tidak akan merestui apa yang saya kerjakan ini. Tuhanku, hal inipun adalah termasuk daftar dosaku yang baru, Tetapi begitulah aku, Tuhan, sangat sulit keluar dari dalam lembah dosa itu. Hanya Engkau-lah yang bisa menolong aku dan aku berserah kepadaMU,-



Holland, 27 juni 03,-


index Koinonia PERKI setempat Arsip Impressum

Situs PERKI di Eropa

Perki Belgia
Perki Inggris
Keluarga Kristen Net
Perki Aachen
Perki Darmstadt
Perki NRW
Perki Oikumene Frankfurt
Perki Matheus
Perki Almere
Perki Amsterdam B

Perki Eropa di Indonesia

Perki Eropa Jakarta

Evaluasi Kerja 2001-2003

Mengintip Kekuatan Politik Pemilu 2004  Abraham Runga Mali
Jurnalis, Mahasiswa Universitas Bonn dan Pengurus Perki Eropa

Dari Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2003 di Austria