Sobron Aidit
:
OBROLAN
MALAM
( Gereja dan Pendeta
-
bagian satu )
Rasanya enak sekali punya banyak komunite pergaulan. Dunia ini
luas - banyak yang bisa kita ketahui - banyak yang kita bisa belajar
dan petik darinya. Pergaulan saya dulunya banyak dari orang yang
sejenis - misalnya yang berasal dari satu kandang ketika dulu di Cina.
Lalu meluas lagi menjadi satu nasib sama-sama tidak bisa pulang.
Nah yang satu nasib ini, dari berbagai pelosok - Eropa dan Eropa
Timur. Lalu meluas lagi dengan komunite gereja dan pendeta. Lalu
meluas lagi - dengan yang dulunya yang paling anti dan paling kejam
terhadap komunis dan orang-orang kiri, dan yang berasal ( mereka
itu ) yang sealiran dengan yang banyak membunuh keluarga dan
teman-teman serta sahabat saya. Tetapi pada akhirnya bisa saling
tegur-sapa dan seperti layaknya manusia antara manusia. Dan pada
akhirnya bisa berkenalan - bersahabat. Dan semua ini tanpa ada kata
maaf dan memaafkan. Berjalan secara wajar dan normal tanpa syarat
dan tanpa menuntut apapun antara satu sama lain. Dalam hati saya,
jangan-jangan, inilah yang dinamakan rekonsiliasi yang sebenarnya!
Mereka ini dari golongan Islam,-
Kalau saya ketika berada dalam kehidupan komunite
gereja dan pendeta,tanpa terasa bahwa lingkungan saya itu adalah lingkungan
yang lebih banyak menggauli lingkungan rokhani - amal - soleh dan
ke-Tuhanan.
Dulu pernah saya merasa heran, kenapa ketika vokal grup gereja
kami latihan menyanyi di rumah, ada 15 orang, semua wanita. Tetapi
tak ada seorangpun yang suku Jawanya! Lama saya renungkan. Lalu
baru saya ingat. Sebagian besar dari mereka, adalah suku Maluku - Manado -
Minahasa - Batak. Lha, ya, dari mereka tokh yang banyak penganut Kristen-nya. Sedangkan suku Jawa bukankah banyak penganut Islamnya? Lalu kenapa saya sampai ada pikiran ke sana dan ke soal itu?
Karena selama ini, dan biasanya, saya selalu ada dalam lingkungan suku
Jawa. Dan soal kesukuan tak ada apa-apanya bagi saya. Sama saja, dan
tak pernah saya merasa anti-Jawa atau anti-Batak atau anti-Cina.
Dan ketika saya berada di lingkungan komunite gereja, terkadang saya
lupa bahwa di sekeliling saya duduk baik di meja makan maupun di sekitar ruang-sidang dari
suatu pertemuan - seminar, teman-teman saya itu
banyak yang pendeta dan akhli agama. Dan kami ramai berdiskusi - saling mengemukakan pendapat
yang tidak jarang berbeda banyak, atau
sama serupa. Ada beberapa wanita yang baru saya kenal misalnya di
Berlin, di Aachen, rupanya mbak-mbak itu adalah pendeta! Dan memang
akhlinya dalam soal agama Kristen dan dari sekolah tinggi agama, baik
dari Indonesia maupun yang dari tamatan Eropa ini. Di kampung kami
di Belanda, saya mengenal gereja dan pendeta kami. Salah seorang pendeta kami adalah
ibu Srani kami, yang langsung membaptis kami. Dia
sekeluarga dekat dengan kami. Dan mereka suami-istri sangat memperhatikan anak-Sraninya - kami ini. Selalu menilpun - menanyakan dan juga
berkunjung kepada kami. Nah, disini, ada kekurangan kami, keluarga pendeta
ibu-Srani kami itu jauh lebih sering datang ke kami, daripada kami
ke mereka! Ini kekurangan kami!
Dan saya pernah juga merasa dongkol. Perki = Persekutuan Keristen
Indonesia di Belanda dan Eropa ini, sudah berumur 73 tahun! Tetapi sampai kini
tidak punya gereja! Asal mau kebaktian - missa - selalu menumpang di gereja lain!
Sampai datanglah pikiran saya mau beli gereja! Pikiran ini
diketahui banyak teman-teman dekat saya. Semua orang juga tahu, manapula saya
punya uang! Manapula mampu! Tetapi ingat, dulu juga kami beli sebuah restoran
di Paris! Jadi bukan mustahil kalau saya atau kami mau beli gereja!
Dan restoran yang kami beli itu sampai kini sudah berusia 20 tahun lebih!
Berdirinya sejak 14 Desember 1982. Ketika itupun kami tidak punya uang di kantong
dan di bank. Yang kami punya bukannya uang kontan, tetapi kami punya
teman-teman - persahabatan dan solidaritas!
Belakangan barulah saya tahu, bahwa Perki itu belum merupakan badan-hukum yang mengelola gereja. Tetapi baru persekutuan dalam ke-Kristen-an. Saya lalu manggut-manggut, mengerti persoalannya - hampir saja saya cari
gereja ke-mana-mana karena mau beli gereja! Sebagaimana layaknya orang hidup,
selalu ada saja persoalan - kontradiksi - yang harus diselesaikan. Saya pernah
menulis - sebenarnya hidup kita ini hanyalah bertugas menyelesaikan satu
kontradiksi dan kontradiksi lainnya. Satu sudah selesai - lalu datang lagi yang
baru. Dan harus lagi kita selesaikan dengan sebaik-baiknya, dan terus menerus
begitu, sampai tak ada lagi kontradiski : karena kita sudah mati!
Apa yang saya maksud? Berat saya mengatakannya. Tetapi kalau mau menye-
lesaikan kontradiksi ya harus dikatakan - harus diletakkan di atas meja!
Baru lagi saya tahu, bahwa pendeta kami yang bertugas melayani jemaatnya - kami
ini - sangat sulit keuangannya. Mereka - ada beberapa pendeta - dibayar selalu ku-
rang dari salaire - honor - yang sesungguhnya. Hanya misalnya 70% dari honor
yang seharusnya mereka terima! Kehidupan keuangannya sebenarnya cukup berat.
Lalu mengapa sebabnya? Karena kami juga tidak punya dana yang
cukup buat itu semua! Sedang kehidupan gereja lebih banyak tergantung dari
uang iuran - dana sumbangsih - dan samasekali tidak tergantung dari bantuan
atau subsidi tetap! Dan semua ini sebenarnya artinya tergantung dari
jemaat - ya kami ini! Padahal saya tahu benar, para pendeta kami itu kerjanya sangat
berat - pekerjaan pelayanannya sangat berat - rumit - dan banyak makan-waktu.
Dua pendeta wanita yang saya tahu, bila pergi dari rumah jam 09.00 atau lebih
pagi lagi, maka pulangnya dan sampai di rumahnya jauh larut malam. Mereka
bekerja lebih dari 12 jam! Tetapi salaire - honornya - jauh daripada
seimbang dengan tenaga-kerjanya dan pikiran serta pengorbanan yang diberikannya. Se-
mua ini demi pekerjaan pelayanan kepada majelis - jemaatnya.
Ada pikiran saya yang mengambil jalan-pintas. Dan saya tahu, pikiran ini
kurang tepat dan saya menyadari pula, bahwa pikiran saya ini tak mungkin diredoi dan direstui
Tuhan. Karena Tuhan tidak suka orang berjudi. Kalau saya
beli loto dan kena, akan saya serahkan kepada gereja, saya sangat tidak mau dan tidak
ikhlas kalau pendeta kami ini harus hidup terus-menerus dalam kesulitan uang. Benar,
mereka tak pernah mengeluh dan menuntut semua apa yang saya ceritakan ini. Mereka bekerja
dengan sungguh-sungguh dan melayani kerja-ke-Tuhan-an, buat seluruh jemaat.
Sampai kini saya tetap beli loto. Tetapi saya tahu, Tuhan rasanya tidak
akan merestui apa yang saya kerjakan ini. Tuhanku, hal inipun adalah
termasuk daftar dosaku yang baru, Tetapi begitulah aku, Tuhan, sangat sulit keluar
dari dalam lembah dosa itu. Hanya Engkau-lah yang bisa menolong aku dan aku
berserah kepadaMU,-
Holland,
27 juni 03,-