MENGENAL MASA REMAJA
Apakah masa remaja itu?
Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa
dewasa. Masa ini biasanya dimulai pada saat seseorang mencapai kamatangan seksual dan
diakhiri pada saat ia mencapai kedewasaan.
Lamanya masa peralihan ini ditentukan berbeda-beda oleh para ahli,
tergantung dari sudut pandang mereka masing-masing. Sebagai contoh, Y. Singgih D. Gunarsa
& Singgih D. Gunarsa membatasi masa remaja pada usia: 12-22 tahun. Menurut mereka,
masa remaja yang cukup panjang ini masih dapat dibagi lagi dalam 3 tahap, yaitu: (1) masa
persiapan fisik, antara umur 11-15 tahun, (2) masa persiapan diri, antara umur 15-18
tahun, dan (3) masa persiapan dewasa, antara umur 18-21 tahun.
Pada masa persiapan fisik, yang paling menyolok pada diri remaja adalah
perubahan fisik yang sedang dialaminya. Pada saat remaja memasuki masa persiapan diri,
pada umumnya kematangan tubuh dan kedewasaan seksual sudah tercapai. Pada masa ini ia
sedang menyiapkan diri menuju pembentukan pribadi yang dewasa. Pada masa persiapan dewasa,
remaja diharapkan sudah mencapai status kedewasaan dalam lingkungan keluarga. Pada masa
ini ia harus menyiapkan masa depan, peran dan penempatan dirinya dalam masyarakat.
Ciri-ciri masa remaja
Ciri utama pada masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubahan.
Perubahan-perubahan tersebut antara lain:
1. Perubahan fisik
Pada masa remaja terjadi pertumbuhan fisik yang cepat dan proses
kematangan seksual. Beberapa kelenjar yang mengatur fungsi seksualitas pada masa ini telah
mulai matang dan berfungsi. Disamping itu tanda-tanda seksualitas sekunder juga mulai
nampak pada diri remaja.
2. Perubahan intelek
Menurut perkembangan kognitif yang dibuat oleh Jean Piaget, seorang
remaja telah beralih dari masa konkrit-operasional ke masa formal-operasional. Pada masa
konkrit-operasional, seseorang mampu berpikir sistematis terhadap hal-hal atau obyek-obyek
yang bersifat konkrit, sedang pada masa formal operasional ia sudah mampu berpikir se-cara
sistematis terhadap hal-hal yang bersifat abstrak dan hipotetis. Pada masa remaja,
seseorang juga sudah dapat berpikir secara kritis.
3. Perubahan emosi
Pada umumnya remaja bersifat emosional. Emosinya berubah menjadi
labil. Menurut aliran tradisionil yang dipelopori oleh G. Stanley Hall, perubahan ini
terutama disebabkan oleh perubahan yang terjadi pada kelenjar-kelenjar hor-monal. Namun
penelitian-penelitian ilmiah selanjutnya menolak pendapat ini. Sebagai contoh, Elizabeth
B. Hurlock menyatakan bahwa pengaruh lingkungan sosial terhadap per-ubahan emosi pada masa
remaja lebih besar artinya bila dibandingkan dengan pengaruh hormonal.
4. Perubahan sosial
Pada masa remaja, seseorang memasuki status sosial yang baru. Ia
dianggap bukan lagi anak-anak. Karena pada masa remaja terjadi perubahan fisik yang sangat
cepat sehingga menyerupai orang dewasa, maka seorang remaja juga sering diharapkan
bersikap dan bertingkahlaku seperti orang dewasa. Pada masa remaja, seseorang cenderung
untuk meng-gabungkan diri dalam 'kelompok teman sebaya'. Kelompok so-sial yang baru ini
merupakan tempat yang aman bagi remaja. Pengaruh kelompok ini bagi kehidupan mereka juga
sangat kuat, bahkan seringkali melebihi pengaruh keluarga. Menu-rut Y. Singgih D. Gunarsa
& Singgih D. Gunarsa, kelompok remaja bersifat positif dalam hal memberikan kesempatan
yang luas bagi remaja untuk melatih cara mereka bersikap, bertingkahlaku dan melakukan
hubungan sosial. Namun kelompok ini juga dapat bersifat negatif bila ikatan antar mereka
menjadi sangat kuat sehingga kelakuan mereka menjadi "overacting' dan energi mereka
disalurkan ke tujuan yang bersifat merusak.
5. Perubahan moral
Pada masa remaja terjadi perubahan kontrol tingkahlaku moral: dari
luar menjadi dari dalam. Pada masa ini terjadi juga perubahan dari konsep moral khusus
menjadi prinsip moral umum pada remaja. Karena itu pada masa ini seorang remaja sudah
dapat diharapkan untuk mempunyai nilai-nilai moral yang dapat melandasi tingkahlaku
moralnya. Walaupun demikian, pada masa remaja, seseorang juga mengalami kegoyahan tingkah
laku moral. Hal ini dapat dikatakan wajar, sejauh kegoyahan ini tidak terlalu menyimpang
dari moraliatas yang berlaku, tidak terlalu merugikan masyarakat, serta tidak
berkelanjutan setelah masa remaja berakhir.
Erikson melihat perkembangan remaja dalam hubungannya dengan
pembentukan identitas diri. Menurut dia, pada masa remaja, seseorang akan mempertanyakan
identitas dirinya: siapa saya, apakah saya dan dimana tempat saya. Tujuan perkembangan
pada masa remaja adalah untuk membentuk identitas diri.
Dalam usaha untuk mencari identitas diri inilah maka seorang remaja
sering membantah orangtua atau tokoh otoritas lainnya. Karena pada masa remaja seseorang
suka membantah, maka masa ini sering disebut sebagai masa 'negativistis' atau masa
'trotzalter.' Sesuai dengan perkembangan yang normal, maka sikap suka membantah pada masa
remaja merupakan sesuatu yang wajar.
Tugas perkembangan pada masa remaja
Menurut Havighurst, remaja mempunyai tugas perkembangan sebagai
berikut:
1. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya,
baik pria maupun wanita.
2. Mencapai peran sosial pria dan wanita.
3. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif.
4. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab.
5. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang-orang dewasa
lainnya.
6. Mempersiapkan karier ekonomi.
7. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga.
8. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk
berperilaku mengembangkan ideologi.
Beberapa minat remaja
Minat seorang remaja tentu tidak sama, tergantung dari banyak faktor,
baik internal maupun eksternal. Namun menurut Elizabeth B. Hurlock, minat yang paling
penting dan paling universal bagi remaja masa kini dapat digolongkan dalam tujuh kategori,
yaitu minat rekreasi, minat sosial, minat pribadi, minat pada pendidikan, minat pada
pekerjaan, minat pada agama dan minat pada simbol status.
Beberapa minat rekreasi yang terdapat dalam diri remaja adalah: bermain
dan berolah-raga, bersantai dan mengobrol dengan teman-teman, bepergian, melakukan suatu
hobi, berdansa, membaca, menonton film dan televisi, mendengarkan radio, kaset dan CD,
serta melamun dikala mereka bosan atau kesepian.
Tentang minat sosial remaja, hal ini dipengaruhi oleh ke-sempatan yang
dimiliki remaja dan kepopulerannya dalam kelompok. Kritik dan usulan pembaruan, walaupun
seringkali kurang bersifat konstruktif dan tidak praktis, adalah merupakan salah satu
contoh dari perwujudan minat tersebut.
Minat pribadi merupakan minat yang terkuat di kalangan remaja. Contoh
dari minat ini adalah minat pada penampilan diri, pada pakaian, pada prestasi, pada
kemandirian dan pada uang.
Minat remaja terhadap pendidikan sangat dipengaruhi oleh minat mereka
pada pekerjaan yang diharapkan kelak. Beberapa faktor yang mempengaruhi sikap remaja
terhadap pendidikan adalah: sikap teman sebaya: berorientasi pada sekolah atau kerja,
sikap orang tua terhadap pendidikan anaknya, nilai-nilai yang menunjukkan keberhasilan
atau kegagalan akademis, relevansi dari berbagai mata pelajaran, sikap terhadap guru,
karyawan, kebijakan akademis dan disiplin, keberhasilan dalam berbagai kegiatan
ektra-kurikuler, dan derajat dukungan sosial diantara teman-teman sekelas.
Sampai dengan awal masa remaja, seseorang menilai suatu pekerjaan
sesuai dengan stereotip yang disajikan dalam media masa. Namun menjelang dewasa, remaja
menilai pekerjaan yang akan dipilihnya itu menurut kemampuan, waktu dan biaya yang
dibutuhkan untuk mengikuti pendidikan bagi pekerjaan tersebut.
Bertentangan dengan pandangan populer, remaja pada masa kini juga
menaruh minat pada agama dan menganggap agama sebagai sesuatu yang penting dalam
kehidupan. Memang dalam kenyataan banyak remaja yang meragukan konsep dan keyakinan
religius mereka pada masa kanak-kanak, sebab pada masa remaja mereka sudah dapat berpikir
kritis sehingga tidak ingin menerima agama begitu saja, tanpa makna. Banyak pula remaja
yang tidak mengikuti kegiatan gerejawi karena mereka kecewa dengan bentuk-bentuk kegiatan
agama yang terorganisasi. Namun hal ini tidak berarti bahwa remaja tidak berminat pada
agama dan tidak percaya pada Tuhan.
Tentang minat remaja pada simbol status, hal ini dilakukan untuk
menunjukkan bahwa seorang remaja lebih tinggi atau mempu-nyai status yang lebih tinggi
dalam kelompok. Hal ini dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara, antara lain dengan
merokok, minum minuman keras, menggunakan 'obat-obatan' tertentu dan sebagainya.
Potensi pada masa remaja
Seorang remaja pada dasarnya memiliki potensi yang sangat berguna bagi
pengembangan dirinya atau bagi orang lain. Sebagai contoh:
1. Kondisi fisik yang berada dalam keadaan prima memungkinkan ia untuk
menjadi olahragawan yang baik atau untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.
2. Karena remaja sudah dapat berpikir sistematis dan kritis terhadap
hal-hal yang abstrak dan hipotetis, maka ia sudah dapat diajak untuk melihat
masalah-masalah yang ada, ikut memberikan saran, pemikiran dan sebagainya.
3. Perasaan emosional yang kuat dari seorang remaja dapat diarahkan
untuk hal-hal yang bersifat positif seperti melakukan aktivitas sosial, keagamaan dan
sebagainya.
4. Kecenderungan remaja untuk hidup dalam kelompok juga dapat diarahkan
untuk hal-hal yang bersifat positif seperti misalnya kelompok belajar, kelompok minat,
dan sebagainya.
5. Perkembangan moral pada masa remaja berguna bagi pengembangan kata
hati yang berguna bagi tingkahlaku moral mereka selanjutnya.
6. Karena masa remaja merupakan masa pembentukan identitas diri, maka
masa ini merupakan masa yang sangat menentukan bagi perkembangan hidup seseorang. Masa
depan seseorang, baik studi, pekerjaan, keluarga, cita-cita dan sebagainya juga dapat
dipersiapkan pada masa ini.
===================
KEPUSTAKAAN:
1. Gunarsa, Singgih D., Dasar dan Teori Perkembangan Anak
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1981).
2. Gunarsa, Y. Singgih D. & Gunarsa, Singgih D., Psikologi
Remaja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1980).
3. Gunarsa, Y. Singgih D. & Gunarsa, Singgih D., Psikologi Untuk
Muda-Mudi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1977).
4. Hurlock, Elizabeth B., Adolescent Development (Tokyo: Mc
Graw-Hill Kogakusha Ltd, 1973).
5. Hurlock, Elizabeth B., Developmental Psychology (New Delhi:
Tata Mc Graw-Hill Publishing Company Ltd, 1976).
6. Sarwono, Sarlito Wirawan, Pengantar Umum Psikologi (Jakarta:
Bulan Bintang, 1976).
7. Susanto, Daniel, Pemantapan Tingkahlaku Moral Pada Remaja,
Ditinjau Dari Teori Belajar (Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1981).
- DANIEL SUSANTO -